Wednesday, September 22, 2004
Kehilangan Bukan Segalanya
Seorang pemuda yang duduk dalam bus melihat kejadian itu, dan bertanya kepada si bapak tua, "Aku memperhatikan apa yang Anda lakukan. Mengapa Anda melemparkan sepatu Anda yang sebelah juga ?" Si bapak tua menjawab, "Supaya siapapun yang menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya."
Si bapak tua dalam cerita di atas mengajarkan bahwa tak ada gunanya mempertahankan sesuatu hanya karena dia ingin memilikinya atau karena dia tidak ingin orang lain memiliki barang berharga miliknya.
Kita kerap kehilangan banyak hal di sepanjang masa hidup. Kehilangan tersebut pada awalnya tampak seperti tidak adil dan merisaukan, tapi itu sebenarnya terjadi supaya ada perubahan positif yang terjadi dalam hidup kita.
Contoh di atas tak hanya diartikan kita hanya boleh kehilangan hal-hal jelek saja. Kadang, kita juga kehilangan hal-hal baik. Ini semua dimaksudkan, agar kita bisa menjadi lebih dewasa secara emosional dan spiritual, pertukaran antara kehilangan sesuatu dan mendapatkan sesuatu kerap harus terjadi.
Seperti si bapak tua dalam cerita tadi, kadang kita harus belajar untuk melepaskan sesuatu. Tuhan sudah menentukan bahwa itulah saatnya si bapak tua kehilangan sepatunya. Bisa jadi, peristiwa itu terjadi agar si bapak tua kelak mendapatkan sepasang sepatu yang lebih baik. Satu sepatu hilang.
Dan sepatu yang tinggal sebelah tidak akan banyak bernilai bagi si bapak. Tapi dengan melemparkannya ke luar jendela, sepatu itu akan menjadi hadiah yang berharga bagi gelandangan yang menemukannya.
Berkeras mempertahankan sesuatu yang bukan kehendak-Nya, tidak membuat kita atau dunia menjadi lebih baik. Kita semua harus memutuskan kapan sesuatu hal atau seseorang masuk dalam hidup kita, atau kapan saatnya kita lebih baik bersama yang lain. Pada saatnya, kita harus mengumpulkan keberanian untuk melepaskan itu semua.
(Sumber: Buku Losing is Winning/MSN)
Saturday, August 14, 2004
KALUNG ANISA
Ini cerita tentang Anisa, seorang gadis kecil yang ceria berusia Lima tahun. Pada suatu sore, Anisa menemani Ibunya berbelanja di suatu supermarket. Ketika sedang menunggu giliran membayar, Anisa melihat sebentuk kalung mutiara mungil berwarna putih berkilauan, tergantung dalam sebuah kotak berwarna pink yang sangat cantik.
Kalung itu nampak begitu indah, sehingga Anisa sangat ingin memilikinya. Tapi... Dia tahu, pasti Ibunya akan berkeberatan. Seperti biasanya, sebelum berangkat ke supermarket dia sudah berjanji tidak akan meminta apapun selain yang sudah disetujui untuk dibeli.
Dan tadi Ibunya sudah menyetujui untuk membelikannya kaos kaki ber-renda yang cantik. Namun karena kalung itu sangat indah, diberanikannya bertanya.
"Ibu, bolehkah Anisa memiliki kalung ini? Ibu boleh kembalikan kaos kaki yang tadi... "
Sang Bunda segera mengambil kotak kalung dari tangan Anisa. Dibaliknya tertera harga Rp 15,000.
Dilihatnya mata Anisa yang memandangnya dengan penuh harap dan cemas. Sebenarnya dia bisa saja langsung membelikan kalung itu, namun ia tak mau bersikap tidak konsisten...
"Oke ... Anisa, kamu boleh memiliki Kalung ini. Tapi kembalikan kaos kaki yang kau pilih tadi. Dan karena harga kalung ini lebih mahal dari kaos kaki itu, Ibu akan potong uang tabunganmu untuk minggu depan. Setuju ?"
Anisa mengangguk lega, dan segera berlari riang mengembalikan kaos kaki ke raknya. "Terimakasih..., Ibu"
Anisa sangat menyukai dan menyayangi kalung mutiaranya. Menurutnya, kalung itu membuatnya nampak cantik dan dewasa. Dia merasa secantik Ibunya. Kalung itu tak pernah lepas dari lehernya, bahkan ketika tidur.
Kalung itu hanya dilepasnya jika dia mandi atau berenang. Sebab,kata ibunya, jika basah, kalung itu akan rusak, dan membuat lehernya menjadi hijau...
Setiap malam sebelum tidur, ayah Anisa membacakan cerita pengantar tidur. Pada suatu malam, ketika selesai membacakan sebuah cerita, Ayah bertanya "Anisa..., Anisa sayang Enggak sama Ayah ?"
"Tentu dong... Ayah pasti tahu kalau Anisa sayang Ayah !"
"Kalau begitu, berikan kepada Ayah kalung mutiaramu...
"Yah..., jangan dong Ayah ! Ayah boleh ambil "si Ratu" boneka kuda dari nenek... ! Itu kesayanganku juga
"Ya sudahlah sayang,... ngga apa-apa !". Ayah mencium pipi Anisa sebelum keluar dari kamar Anisa.
Kira-kira seminggu berikutnya, setelah selesai membacakan cerita, Ayah bertanya lagi, "Anisa..., Anisa sayang nggak sih, sama Ayah?"
"Ayah, Ayah tahu bukan kalau Anisa sayang sekali pada Ayah?".
"Kalau begitu, berikan pada Ayah Kalung mutiaramu."
"Jangan Ayah... Tapi kalau Ayah mau, Ayah boleh ambil boneka Barbie ini.."Kata Anisa seraya menyerahkan boneka Barbie yang selalu menemaninya bermain.
Beberapa malam kemudian, ketika Ayah masuk ke kamarnya, Anisa sedang duduk di atas tempat tidurnya. Ketika didekati, Anisa rupanya sedang menangis diam-diam. Kedua tangannya tergenggam di atas pangkuan. air mata membasahi pipinya..."Ada apa Anisa, kenapa Anisa ?" Tanpa berucap sepatah pun, Anisa membuka tangannya.
Di dalamnya melingkar cantik kalung mutiara kesayangannya" Kalau Ayah mau...ambillah kalung Anisa"
Ayah tersenyum mengerti, diambilnya kalung itu dari tangan mungil Anisa. Kalung itu dimasukkan ke dalam kantong celana. Dan dari kantong yang satunya, dikeluarkan sebentuk kalung mutiara putih...sama cantiknya dengan kalung yang sangat disayangi Anisa..."Anisa... ini untuk Anisa. Sama bukan ? Memang begitu nampaknya, tapi kalung ini tidak akan membuat lehermu menjadi hijau"
Ya..., ternyata Ayah memberikan kalung mutiara asli untuk menggantikan kalung mutiara imitasi Anisa.
Demikian pula halnya dengan Allah S.W.T. terkadang Dia meminta sesuatu dari kita, karena Dia berkenan untuk menggantikannya dengan yang lebih baik. Namun, kadang-kadang kita seperti atau bahkan lebih naif dari Anisa : Menggenggam erat sesuatu yang kita anggap amat berharga, dan oleh karenanya tidak ikhlas bila harus kehilangan. Untuk itulah perlunya sikap ikhlas, karena kita yakin tidak akan Allah mengambil sesuatu dari kita jika tidak akan menggantinya dengan yang lebih baik.
Sumber : Daarut tauhiid
Monday, May 24, 2004
Fadil membidik pasar IT UKM
"Waktu itu saya bilang ke orang tua bahwa saya ingin menikah. Orang tua saya menjawab, anak isterimu nanti mau dikasih makan apa? Wah, saya tertantang dan saya yakin kalau mau berusaha pasti Tuhan akan membantu," kata Fadil mengenang. Bisnis Indonesia
Transkrip pidato Larry Ellison, CEO dari ORACLE
"Graduates of Yale University, I apologize if you have endured this type of prologue before, but I want you to do something for me. Please, take a go look around you. Look at the classmate on your left. Look at the classmate on the right. Now, consider this: Five years from now, ten years, even thirty years from now, odds are the person on your left is going to be a loser.
The person on your right,meanwhile, will also be a loser. And you, in the middle? What can you expect?
Loser. Loserhood. Loser Cum Laude.
In fact, as I look out before me today, I don't see a thousand hopes for a bright tomorrow. I don't see a thousand future leaders in a thousand industries. I see a thousand losers. You're upset. That's understandable. After all, how can I, Lawrence'Larry'
Ellison, college dropout, have the audacity to spout such heresy to the graduating class of one of the nation's most pretigious institutions?
I'll tell you why .. Because I, Lawrence 'Larry'
Ellison, second richest man on the planet, am a college dropout, and you are not.Because Bill gates, the richest man on the planet -- for now, anyway -- is a college dropout, and you are not.Because Paul Allen, the third richest man on the planet, dropped out of college, and you did not. And for good measure, because Michael Dell, No.9 on the list and moving up fast, is a college dropout, and you, yet again, are not.
Hmmm. you're very upset. That's understandable. So let me stroke your egos for a moment by pointing out, quite sincerely, that your diplomas were not attained in vain. Most of you, I imagine, have spent four to five years here, and in many ways what you have learned and endured will serve you well in the years ahead. You've established good work habits. You've established a network of people that will help you down the road. And you've established what will be lifelong relationships with the word 'therapy'.
All that of is good. For truth, you will need that network. You will need those strong work habits. You will need that therapy. You will need them because you didn't dropout, and so you will never be among the richest people in the world. Oh sure, you may, perhaps, work your way up to No.10 or No.11, like Steve Ballmer. But then, I don't have to tell you who he really works for, do I?
And for the record, he dropped out of grad school.
Bit of a late bloomer.
Finally, I realize that many of you, and hopefully by now most of you, are wondering, "Is there anything I can do? Is there any hope for me at all?" Actually, no. It's too late. You've absorbed too much, think you know too much. You're not 19 anymore. You have a built-in cap, and I'm not referring to the mortar boards on your heads. Hmm. you're really very upset.
That's understandable. So perhaps this would be a good time to bring up the silver lining. Not for you, Class of '00. You are a write-off, so I'll let you slink off to your pathetic $ 200,000-a-year jobs, where your check will be signed by former classmate who dropped out two years ago.
Instead, I want to give hope to any underclassmen here today. I say to you, and I can't stress this enough:
leave. Pack your things and your ideas and don't comeback. Drop out. Start up. For I can tell you that a cap and gown will keep you down just as surely as these security guards dragging me off."
(by way of RJP/itb)